Oktober memiliki makna historis yang penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad melalui Sumpah Pemuda. Momentum tersebut menjadi salah satu tonggak penting persatuan Indonesia sekaligus pengingat bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah belah.
Menghidupkan Semangat Sumpah Pemuda
Semangat Sumpah Pemuda tetap relevan di tengah tantangan zaman. Mahasiswa dan generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga persatuan, merawat toleransi, serta tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang berpotensi menyebarkan kebencian.
Perbedaan pandangan politik, pilihan organisasi, maupun cara melihat persoalan bangsa merupakan hal yang wajar. Yang perlu dijaga adalah agar perbedaan tersebut tidak dimanfaatkan untuk mengadu domba sesama anak bangsa.
Kritik Mahasiswa Bagian dari Demokrasi
Momentum Oktober tahun ini juga berdekatan dengan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Dalam periode tersebut, berbagai evaluasi terhadap kebijakan pemerintah terus disampaikan, termasuk melalui demonstrasi mahasiswa di sejumlah daerah.
Demonstrasi merupakan bagian yang sah dalam kehidupan demokrasi. Mahasiswa memiliki posisi penting sebagai kelompok kritis yang menyampaikan aspirasi, mengawasi kebijakan pemerintah, serta mengingatkan penguasa ketika terdapat kebijakan yang dinilai belum sesuai dengan kepentingan masyarakat.
Karena itu, kritik tidak semestinya dipandang sebagai ancaman. Pemerintah perlu membuka ruang dialog dan menjadikan aspirasi publik sebagai salah satu bahan evaluasi untuk memperbaiki kebijakan.
Aspirasi Harus Disampaikan Secara Bertanggung Jawab
Di sisi lain, kebebasan menyampaikan pendapat juga harus disertai tanggung jawab. Mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan tuntutan, tetapi penyampaiannya tetap perlu berdasarkan argumentasi yang kuat, data yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kepentingan publik.
Demonstrasi yang berlangsung damai akan memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Sebaliknya, perusakan fasilitas umum, kekerasan, maupun tindakan yang mengganggu hak masyarakat lain justru dapat mengaburkan substansi perjuangan.
Demokrasi tidak hanya membutuhkan keberanian untuk bersuara, tetapi juga kedewasaan dalam menghormati aturan dan hak orang lain.
Waspadai Provokasi dan Adu Domba
Mahasiswa dan masyarakat juga perlu mewaspadai provokasi yang dapat menggeser tujuan sebuah gerakan. Perjuangan untuk mendorong perubahan jangan sampai dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyebarkan kebencian, memperuncing konflik, atau memecah persatuan.
Sikap kritis harus berjalan bersama kemampuan memeriksa fakta. Informasi yang beredar di media sosial perlu diverifikasi sebelum dipercaya dan disebarkan. Dengan demikian, ruang demokrasi dapat digunakan untuk pertukaran gagasan, bukan menjadi arena penyebaran hasutan.
Persatuan dan Demokrasi Bisa Berjalan Bersama
Persatuan dan demokrasi bukan dua hal yang saling bertentangan. Kritik dapat berjalan beriringan dengan kedamaian, sementara perbedaan pendapat tidak harus berakhir pada permusuhan.
Justru demokrasi yang sehat membutuhkan ruang kritik yang terbuka sekaligus komitmen bersama untuk menjaga ketertiban, menghormati hak warga lain, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Oktober, Momentum Pemuda Menjaga Indonesia
Oktober seharusnya menjadi momentum bagi pemuda Indonesia untuk kembali menghidupkan semangat Sumpah Pemuda. Bersatu bukan berarti harus selalu sepakat, melainkan mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan tujuan bersama sebagai sebuah bangsa.
Mahasiswa boleh bersuara lantang, pemerintah harus bersedia mendengar, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga ruang demokrasi tetap sehat. Dengan kritik yang konstruktif, aspirasi yang damai, serta semangat persatuan, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan untuk membawa Indonesia bergerak lebih maju.